Oegroseno Luncurkan Buku di UMSU

  Buku berjudul Oegroseno: Pengabdian Polisi tak Kenal Lelah akan diluncurkan di Auditorium   Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) pada Sabtu, 21 Mei 2011 mendatang. Ketua Pelaksana, Farid Wajdi SH MHum mengatakan, peluncuran buku yang ditulis Yulhasni dan Arifin Saleh Siregar, keduanya dosen UMSU tersebut, juga akan dihadiri langsung oleh mantan Kapolda Sumut Komjen Pol Drs Oegroseno SH. ‘’Beliau sudah menyatakan kehadirannya pada acara tersebut,’’ujar Farid Wajdi yang juga Dekan FH UMSU seraya menjelaskan Oegroseno juga akan memberikan sambutan pada acara itu. Dijelaskan Dekan Fakultas Hukum UMSU ini, buku yang dicetak oleh penerbit CV Predana Jakarta tersebut berisi pandangan kedua penulis tentang pemikiran sosok Oegroseno yang sempat menjabat Kapolda Sumut beberapa waktu lalu. ‘’Dalam buku tersebut kita akan memperoleh rekaman tentang program dan pemikiran Oegroseno agar polisi lebih humanis,’’papar Farid Wajdi. Dijelaskan Farid Wajdi, dalam buku setebal 157 halaman, pembaca akan memperoleh sosok pemikiran Oegroseno yang dinilai banyak melakukan perubahan mendasar dalam usaha memperbaiki citra polisi di Indonesia. ‘’Penulis membagi empat bagian buku tersebut dan pembaca dapat memperoleh informasi-informasi penting dalam pemikiran sosok Oegroseno,’’papar Farid Wajdi. Kempat bagian itu, kata Farid, yakni Polisi di Mata Masyarakat: Stigma Polisi yang Sulit Dihapus, Membumikan Citra Polisi Humanis, Oegroseno Berbakti tidak Harus Jadi (Ka) Polri, dan Mereka Bicara. Secara terpisah, dua penulis buku Yulhasni dan Arifin Saleh Siregar mengatakan karena beragam keterbatasan, masih banyak yang masih luput dari sosok Oegroseno untuk ditulis. ‘’Pemikiran beliau kadang melampaui dari yang kita pikirkan. Kadang kita sendiri lupa dia itu Kapolda atau masyarakat sipil biasa. Bahkan kadang-kadang kita berpikir, dia bisa jadi aktivis LSM,’’ujar keduanya. Selain dihadiri Rektor UMSU, Drs Agussani MAP, peluncuran buku ini juga akan dihadiri Kapolda Sumut, Plt Gubsu, Walikota Medan, Walikota Binjai, Bupati Serdang Bedagai, pers, NGO, advokat, akademisi/aktivis kampus dan mahasiswa. Peluncuran buku itu akan diisi juga dengan testimoni sejumlah tokoh masyarakat, di antaranya War Djamil mewakili tokoh pers dan Ketua DPRD Sumut. ‘’Kita juga mengundang Ilham Wahyudi, penyair Sumatera Utara yang juga alumni UMSU untuk membacakan puisi-puisinya,’’kata Farid. Rektor UMSU Drs Agussani MAP memberi apresiasi atas peluncuran buku ini. Agenda ini dapat membuka jalan bagi para penulis agar lebih kreatif dan produktif dalam mencerahkan pemikiran lewat tulisan. Apalagi sosok yang ditulis sudah begitu dekat dengan hati warga Sumatera Utara. Agussani berharap, seiring dengan itu, kiranya dalam waktu yang tidak terlalu lama, budaya tulis di semua kalangan dapat semakin berkembang. Dengan begitu, budaya intelektual lewat tulisan dapat tumbuh pula dengan baik.

Istana Maimun Hidup Segan Mati Tak Mau

Istana Maimun Hidup Segan Mati Tak Mau

 

 

 MEDAN – Istana Maimun sekarang ini sangat cocok dengan ungkapan hidup segan mati tak mau yang menjadi judul utama berita ini, saat ini istana yang masih menyisakan sisa sisa kemegahan nya itu nyaris terlupaka oleh warga kota medan. Hal ini disebabkan karena pesatnya pembangunan di kota medan dan arus moderenisasi yang masuk ke kota medan sehingga membuat masyarakat melupakan sejarah dan objek wisata penting ini. (17/5)

Saat ini istana mamiun benar benar sudah hilang daya tariknya bagi masyarakat. Dilain pihak pemerintah kota medan yang juga seharusnya ikut menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah ini juga ikut menelantarkan istana maimun. Anggaran tahunan untuk pemeliharaan istana yang sangat minim dari pemerintah membyuat pihak yayasan istana maimun mengambil langkah langkah yang justru semakin memudarkan dan menenggelamkan kisah historis istana itu.

Isatana mamimun adalah salah satu peninggalan bersejarah di kota medan. Yang memiliki letaak cukup strategis yaitu sekitar 3 km dari bandara Polonia dan sekitar 28 km dari pelabuhan Belawan, tepatnya di Kelurahan Aur,jalan Brigjen Katamso, Medan. Istana yang menjadi tempat kediaman kesultanan deli pada masa jayanya ini, dan juga menjadi landmark kota medan

Saat ini sayap sebelah kanan dan kiri istana maimun telah menjadi rumah tinggal para keluarga istana. Dan hal itu juga turut merusak kelestarian istana, halamn samping istana maimun juga sudah disewakan untuk pedagang bunga, sementara halamn depan istana maimun yang luas dan cukup asri saat ini sudah menjadi langganan untuk menyelenggarakan berbagai event yang tidak ada kaitan nya dengan istan, seperti acara konser music, nonton bareng dan sebagainya.

 

Saat jurnalistikumsu melakukan konfirmasi kepada pihak pengelola istana, pihak pengelola mengatakan terpaksa menyewakan sebagaian lahan istana untuk berbagai hal demi menutupi biaya perawatan istana, dan berbagai macam keperluan lainya di istana, sementara pemerintah, melalui dinas pariwisata hanya menyediakan anggaran yang tidak seberapa, anggaran tahunan pemeliharaan istana yang tidak pernah dinaikan sejak 10 tahun lalu itu tidak cukup untuk pengelolaan da perwatan.

Semoga saja kita para generasi muda sadar akan betapa penting nya istana mamiun sebagai salah satru situs sejarah kebudayaan melayu yang perlu dijaga dan dilestariukan. Agar tidak punah dimakan zaman, dan juga pemerintah kota medan melalui dinas pariwisita dapat lebih memperhatikan istana maimun dan tidak lagi berada dalam posisi seperti sekarang ini.  ( van )

Pelanggan Telkomsel Tembus 100 Juta

MEDAN- Telkomsel mengumumkan jumlah pelanggan ke 100 juta, pada tanggal 27 april kemarin . Dengan pencapaian ini, Telkomsel menjadi operator seluler ke-7 di dunia yang dipercaya oleh 100 juta pelanggan di satu negara.

Acara pengukuhan pelanggan ke-100 berlangsung meriah di Hotel Rizt Carlton, Jakarta, dihadiri mantan presiden Prof BJ Habibie yang juga peletak dasar industri seluler di Tanah Air.

Direktur Utama Telkomsel,  Sarwoto Atmosutarno mengungkapkan,pencapaian tersebut sangat penting, mengingat industri telekomunikasi seluler sudah memasuki tahap jenuh.

“Dengan jumlah pelanggan sebesar ini, Telkomsel memiliki fondasi kuat dan paling siap untuk melangkah beyond telecommunication dengan layanan yang berpusat pada data,” katanya.

Untuk itu, tahun ini Telkomsel menginvestasikan belanja modal  senilai USD1,1 miliar (sekitar Rp10,9 triliun) yang 60 persen di antaranya dialokasikan untuk peningkatan layanan broadband.  Proses transformasi menuju era beyond telecommunication  juga meniscayakan peningkatankapasitas dan kualitas jaringan, skema kolaborasi dan kemitraan dengan para mitra kerja dan sistem pendukung yang andal. Seperti sistem penagihan maupun pencatatan data pelanggan.

“Implementasi strategis ini diharapkan mampu mewujudkan komitmen Telkomsel untuk mengedepankan peningkatan pelayanan kepada pelanggan, terutama untuk menghadirkan kepuasan pengalaman pelanggan dalam memanfaatkan layanan mobile lifestyle Telkomsel,” ujar Sarwoto.

Produk dan layanan Telkomsel  sangat menarik minat masyarakatkarena selain tarifnya kompetitif, jaringannya juga dapat diandalkan. Aspirasi masyarakat terhadap layanan telekomunikasi seluler sudah bergeser, tidak semata mencari tarif rendah tetapi lebih mencari  layanan yang menawarkan kekuatan,kestabilan serta keluasan jangkauan jaringan.

Saat ini 100 juta pelanggan Telkomsel dilayani oleh lebih  dari 38.000 base transceiver station(BTS), termasuk lebih dari 8.300 Node B (BTS 3G). Untuk meningkatkan pelayanan bagi pelanggan, Telkomsel menggelar lebih dari satu juta titik pelayanan pelanggan yang  tersebar di seluruh Indonesia,seperti GraPARI, GeraiHALO, KiosHALO, outlet dealer, ritel nasional dan m-Kios.

Bertepatan dengan pencapaian 100 juta pelanggan ini, Telkomsel juga menegaskan kembali komitmennya untuk mendukung  program edukasi teknologi telekomunikasimelalui pembangunan Museum Seluler di dalam Museum Telekomunikasi, Taman Mini Indonesia Indah. Museum Seluler ini akan menghadirkan peta jalan (roadmap) telekomunikasi seluler di Indonesia yang dapat menjadi media pembelajaran generasi mendatang.

Pembangunan Museum Seluler merupakan salah satu dari banyak kegiatan tanggung jawab perusahaan Telkomsel. Program Telkomsel Merah Putih, misalnya, telah membuka akses telekomunikasi di wilayah- wilayah terpencil dan menyatukan pulau-pulau terluar dalam jaringan telekomunikasi nasional. Tak kurang dari 250 lokasi yang terisolir kini telah memiliki akses terhadap telekomunikasi.
( van )

JURNALISTIK,UMSU, medan- Peneliti mengungkap, khitan mampu memperkecil efek transmisi HIV warga Amerika Serikat (AS). Berkat khitan, penularan HIV bisa dicegah 50-60%.

Hasil riset ini dipresentasikan di XVIII International AIDS Conference di Vienna, Austria. Studi ini dilakukan pada Warga Afrika dari 2005-2007. Hasil menunjukkan, tingkat penularan HIV menurun terhadap pria yang melakukan khitan.

Uji klinis pun dilakukan di Uganda, Kenya dan sub-Sahara Afrika Selatan. Hasilnya, khitan mampu menurunkan risiko penularan HIV wanita ke pria sebesar 50-60%. Keberhasilan uji ini diharapkan juga bisa berhasil untuk pasangan homoseksual AS.

“Khitan melindungi HIV negatif pria heteroseksual agar tak tertular HIV dari pasangan wanitanya,” kata penulis studi baru ini sekaligus peneliti pasca-doktoral University of Pittsburgh Chongyi Wei. Namun, hasil studi tak sama pada pria homoseksual.

Dalam studi baru, para peneliti University of Pittsburgh melakukan survey pada 521 pria gay dan biseksual di San Francisco. Peneliti menemukan, 115 orang (21%) adalah HIV positif dan 327 (63%) di antaranya telah disunat.

Dari 69 orang tersisa (13%), hanya tiga orang (0,5%) mengatakan bersedia berpartisipasi dalam uji klinis khitan dan pencegahan HIV. Para peneliti mengekstrapolasi temuan mereka ke seluruh populasi pria gay dan biseksual San Francisco yang diperkirakan mencapai 65,7 ribu orang.

Hasilnya, hanya 500 pria berpotensi benar-benar mendapat manfaat dari khitan. Dari kelompok itu, “Sedikit pria bersedia dikhitan meski terbukti menjadi strategi pencegahan HIV yang efektif di antara para pria gay dan biseksual,” kata Wei.

Pada kenyataannya, hanya empat (0,7%) dari peserta studi bersedia melakukan khitan jika hal ini kasusnya. Perbedaan antara hasil uji klinis di Afrika dan AS adalah, penyebab utama infeksi HIV di Afrika adalah seks heteroseksual, sementara seks homoseksual menjadi penyebab utama penularan di AS, papar Wei.

“Kesimpulan utama studi kami adalah, khitan memiliki dampak yang sangat terbatas pada epidemi HIV di kalangan pria gay atau biseksual di San Francisco karena banyak dari mereka yang sudah dikhitan,” ujar Wei.

Selain itu, sebagian besar pria gay atau biseksual berpartisipasi dalam kedua peran reseptif (pasangan yang dianal) dan insertif (pasangan yang melakukan anal). Karena khitan hanya meningkatkan perlindungan bagi pria insertif, maka pada kalangan ini, khitan tak akan melindungi pria dari semua tindak seksualnya.

Menurut American Urological Association (AUA), khitan diyakini bisa mengurangi risiko penularan HIV dengan membuang bagian kulup paling rentan infeksi virus. “Khitan di AS sudah sangat umum. Alhasil, khitan bisa menjadi strategi sejumlah pria untuk mencegah HIV potensial saat dewasa,” lanjut Wei.

Hasil studi menunjukkan, khitan jelas memiliki potensi bermanfaat untuk pelaksanaan program-program pencegahan HIV. Praktek ini memang jarang sekali terjadi di Afrika. Namun, khitan kini sedang digalakkan di beberapa negara di Afrika. [van]

Etika Profesi Jurnalistik

Tema : Etika Profesi Jurnalistik “Kita”

Sejauh Manakah Pemahaman Itu ?                           

Oleh Rini Maya Sari Defretes

Sampai manakah pemahaman etika dan kode etik jurnalistik oleh wartawan-wartawan “kita”, Yang kesemua itu tidak pernah lepas dari tugasnya sehari-hari untuk mencari berita, sampai berita tersebut dikonsumsi oleh masyarakat karena informasi yang diperlukan masyarakat adalah informasi yang akurat dan jujur.  sehingga apa yang menjadi tugas wartawan sebenarnya berjalan dengan baik dan sesuai dengan yang diharapkan oleh masyarakat.

Etika pers adalah filsafat dibidang moral pers, yaitu bidang yang mengenai kewajiban-kewajiban pers tentang apa yang merupakan pers yang baik dan pers yang buruk, pers yang benar dan pers yang salah, pers yang tepat  dan yang tidak tepat. Agar senantiasa berada dijalur yang benar, maka setiap organisasi pers harus membekali dirinya dengan apa yang disebut kode etik jurnalistik. Kode etik tersebut mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan sikap dan prilaku pers ketika menjalankan fungsi dan tugasnya sehari-hari. Kode etik itu ibarat belenggu suci karena bersifat mengikat wartawan, menciptakan kewajiban-kewajiban, tetapi jika ditaati justru yang menaatinya bisa makin berwibawa, bisa makin bertambah martabatnya.

Paham Atau Sengaja Dihiraukan

Kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945. Kemerdekaan pers adalah sarana masyarakat untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi, guna memenuhi kebutuhan hakiki dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan pers itu, wartawan  Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial,  keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama. Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers menghormati hak asasi setiap orang, karena itu pers dituntut profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat.  Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika  profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme. Tapi apakah wartawan “kita” paham mengenai etika dalam mencari dan meliput berita dilapangan ?. Menaati segala ketentuan dan kaidah-kaidah yang sudah ada ?. Menurut saya sudah paham tapi sayang dengan amat sengaja telah dihiraukan. Memang etika itu kembali pada diri kita sendiri, kebiasaan kita itulah menjadi sebuah etika, yang bersifat baik maupun buruk. Tapi alangkah baiknya mempunyai etika yang baik dan dapat di contoh oleh lingkungan sekitar kita. Bukankah kita telah dikenalkan oleh sosok Mochtar Lubis seorang pahlawan di dunia jurnalistik dan seorang pemberani. Begitu banyak karya-karya yang telah dihasilkan olehnya apalagi menyangkut pencemaran lingkungan hidup atau pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM), bisa dijamin beliau ada di sana sebagai pembela perjuangan untuk yang benar dan adil. Selain itu dia adalah sosok wartawan anti suap atau anti amplop.

Apakah ada sosok Mochtar Lubis dijaman sekarang ini ?. Bukankah ia patut kita contoh untuk hidup di dunia jurnalistik. Tapi sayang segelincir wartawan-wartawan kita tidak ada sedikitpun mencontoh sosok Mochtar Lubis bahkan banyak yang bersifat praktis. Mereka juga menerima suap bahkan meminta Money agar berita tersebut dimuat. Mengapa bisa terjadi?. Dimana kata to inform itu ?. Bukankah lelah dijelaskan dalam UU No. 40 Tahun 1999 dalam pasal 7 ayat (2) “Wartawan memiliki dan menaati kode etik jurnalistik dan juga telah disebutkan dalam Peraturan Dewan Pers No. 6/Peraturan-DP/V/2008 dalam pasal 6 “ Wartawan indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap”. Dimanakah Undang-Undang tersebut harus kita letakkan atau sudah tidak diperlukan lagi Undang-Undang itu ?. Buat apa Undang-Undang dibuat tapi tidak ditaati atau direvisi saja Undang-Undang tersebut.

Dalam film All The President’s yang menceritakan perampokan di kantor Demokrat, disana kita melihat 2 (dua) sosok yang benar-benar dibilang seorang wartawan, wartawan handal. Mereka benar-benar mencari berita dan tidak bersifat praktis. Berbulan bahkan bertahun-tahun mereka mencari sumber suatu masalah hingga tuntas, sopan kepada narasumber. Tapi apakah ada sosok wartawan dalam film tersebut di wartawan-wartawan kita ?. Mungkin ada tapi hanya 1 diantara 1.000. Kita terlalu banyak meninggalkan kasus yang belum bertemu akarnya, hanya terdengar hingar-bingar dan hilang begitu saja bagaikan dibawa angin sepoy – sepoy.

Keseimpulan

Bercerita dari sebuah pengalaman dan ini hanyalah sebuah tulisan yang mungkin dapat membuka pikiran tentang suatu peraturan yang telah ditetapkan sebelumnya, mengembalikan imetz baik kepada masyarakat dan kalangan atas. Dan akan hilang kata “memang begitunya wartawan kerjaanya” (meminta money).

Tapi itu semua kembali pada diri kita sendiri, mau menjadi sosok yang akan menjadi panutan di masa mendatang atau hanya sebagai orang yang biasa-biasa saja. Intinya hiduplah dengan kejujuran. Bukankah itu indah !!!.

Referensi :

Sumadiria, As Haris. 2005. Jurnalistik Indonesia. Bandung. Simbiosa Rekatama Media.

Situs :

http://id.wikipedia.org/wiki/Mochtar_Lubis

*) Penulis adalah Mahasiswi Semester VI Konsentrasi jurnalistik FISIP Umsu dan disampaikan dalam mata kuliah Etika Profesi Jurnalistik asuhan Nirwansyah Putra Panjaitan, S.Sos.

 

 

Tips Pacaran Yang Islami

TIPS “PACARAN YANG ISLAMI”
1. Jangan berduaan dengan pacar di tempat sepi, kecuali ditemani mahram dari sang wanita (jadi bertiga)
“Janganlah seorang laki-laki berkholwat (berduaan) dengan seorang wanita kecuali bersama mahromnya…”[HR Bukhori: 3006,523, Muslim 1341, Lihat Mausu’ah Al Manahi Asy Syari’ah 2/102]
“Tidaklah seorang lelaki bersepi-sepian (berduaan) dengan seorang perempuan melainkan setan yang ketiganya“ (HSR.Tirmidzi)
2. Jangan pergi dengan pacar lebih dari sehari semalam kecuali si wanita ditemani mahramnya
“Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian sehari semalam tidak bersama mahromnya.” [HR Bukhori: 1088, Muslim 1339]
3. Jangan berjalan-jalan dengan pacar ke tempat yang jauh kecuali si wanita ditemani mahramnya
“…..jangan bepergian dengan wanita kecuali bersama mahromnya….”[HR Bukhori: 3006,523, Muslim 1341]
4. Jangan bersentuhan dengan pacar, jangan berpelukan, jangan meraba, jangan mencium, bahkan berjabat tangan juga tidak boleh, apalagi yang lebih dari sekedar jabat tangan
”Seandainya kepala seseorang di tusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (Hadits hasan riwayat Thobroni dalam Al-Mu’jam Kabir 20/174/386 dan Rauyani dalam Musnad: 1283, lihat Ash Shohihah 1/447/226)
Bersabda Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wassallam: “Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita.” [HR Malik 2/982, Nasa’i 7/149, Tirmidzi 1597, Ibnu Majah 2874, ahmad 6/357, dll]
5. Jangan memandang aurat pacar, masing-masing harus memakai pakaian yang menutupi auratnya
“Katakanlah kepada orang-orang beriman laki-laki hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya..” (Al Qur’an Surat An Nur ayat 30)
“…zina kedua matanya adalah memandang….” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i)
6. Jangan membicarakan/melakukan hal-hal yang membuat terjerumus kedalam zina
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang jelek” (Al Qur’an Surat Al Isra 32)
“Kedua tangan berzina dan zinanya adalah meraba, kedua kaki berzina dan zinanya adalah melangkah, dan mulut berzina dan zinanya adalah mencium.” (H.R. Muslim dan Abu Dawud)
7. Jangan menunda-nunda menikah jika sudah saling merasa cocok
“Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).
“Yang paling banyak menjerumuskan manusia ke-dalam neraka adalah mulut dan kemaluan.” (H.R. Turmudzi dan dia berkata hadits ini shahih.)
WARNING:
sebenarnya banyak ulama dan ustadz yang mengharamkan pacaran, misalnya saja ustadz Muhammad Umar as Sewed. jadi sebaiknya segera menikahlah dan jangan berpacaran…